AHLAN WA SAHLAN

" Derasnya air surga yang turun di setiap hari dengan memberikan banyak manfaat bagi makhluk-Nya sama dengan cinta_Mu Robby padaku yang selalu memberikan berbagai macam cerita di hidupku "

Senin, 06 Mei 2013

Pendidikan

PERAN PESANTREN
BAGI MASYARAKAT PEDESAAN
Diajukankan sebagai tugas akhir mata kuliah
“TPKI”




Disusun oleh:
Desy noorhayati umar
D03210054

Dosen Pembimbing :
 Dr. Phil. Khoirun Niam

FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2010

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................................  i

BAB 1             PENDAHULUAN ...............................................................................................   1  
A.    Latar Belakang ................................................................................................  1
B.     Rumusan Masalah ...........................................................................................  1

BAB 2             PEMBAHASAN ..................................................................................................  2
A.    Pesantren dan Masyrakat Desa ........................................................................  2
B.     Peran Pesantren bagi Masyarakat Desa ...........................................................  3
C.     Pengaruh Pesantren bagi Masyarakat Desa .....................................................  4

BAB 3             PENUTUP ...........................................................................................................  5
                        Kesimpulan ..........................................................................................................  5

DAFTAR PUSTAKA







BAB 1
PENDAHULUAN

    A.   LATAR BELAKANG
            Jika muncul pertanyaan, apa itu pesantren? Maka jawaban yang kita dapatkan pasti bermacam-macam. Karna banyak pendapat tentang pengertian pesantren itu sendiri. Lebih-lebih dari para tokoh yang memiliki argumen sendiri-sendiri.
Pesantren dapat disimpulkan sebagai suatu lembaga pendidikan islam tradisional yang dikelolah oleh masyarakat dan atas swadayanya sendiri. Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan merupakan realitas yang tak dapat dipungkiri. Sepanjang sejarah yang dilaluinya, pesantren terus menekuni pendidikan tersebut dan menjadikannya sebagai fokus kegiatan.
Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, pesantren pada mulanya adalah pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama islam. Dengan menyediakan kurikulum yang berbasis agama, pesantren diharaapkan mampu melahirkan alumni yang kelak mampu menjadi figur agamawan yang tangguh dan memainkan perannya pada masyarakat secara umum.
 Pesantren sangat identik dengan masyarakat pedesaan, karna mayoritas keberadaan pesantren ada di pedesaan, karna dari itu, banyak para orang tua yang berada di desa yang bertujuan ingin menentukan pendidikan bagi anak-anaknya, mereka langsung berinisiatif untuk memasukkan anak mereka pada sebuah pesantren. Karna menurut mereka, di pesantren anak-anak akan mendapat ilmu agama yang cukup banyak yang dapat menjadi bekal untuk kehidupan mereka kelak. Selain mengajarkan ilmu agama, pesantren juga memiliki banyak peran-peran yang lain, terutama bagi masyarakat pedesaan.



  B.   RUMUSAN MASALAH
   1.      Apa hubungan pesantren dengan masyarakat pedesaan ?
   2.      Bagaimana peran pesantren bagi masyarakat pedesaan ?
   3.      Mengapa pesantren sangat berpengaruh bagi masyarakat pedesaan ?
         
BAB II
PEMBAHASAN

A.   PESANTREN DAN MASYARAKAT DESA
Sejak awal kelahirannya, pesantren tumbuh, berkembang dan tersebar di berbagai pedesaan. Keberadaan pesantren sebagai lembaga keislaman yang sangat kental dengan karakteristik Indonesia ini memiliki nilai-nilai strategis dalam pengembangan masyarakat Indonesia. Realitas menunjukkan, pada satu sisi, sebagian besar penduduk Indonesia terdiri dari umat islam, dan pada sisi lain, mayoritas dari mereka tinggal di pedesaan.[1]
Pesantren merupakan sekumpulan komunitas independen yang pada awalnya mengisolasi diri di sebuah tempat yang jauh dari pusat perkotaan.[2] Pesantren dianggap sebagai satu-satunya sistem pendidikan di Indonesia yang menganut sistem tradisional. Karna nilai-nilai kemandirian yang dianut pesantren masih lebih menampakkan aspeknya yang bersifat individual, atau sangat lokal, dan belum menjadi sikap social kemasyarakatan yang transformative. Persoalan itu masih ditambah dengan pemaknaan sebagai pesantren terhadap pengabdian dan pengembangan masyrakat yang masih terkesan parsial dan melulu ditekankan pada aspek pengembangan keilmuan keagamaan murni.
 Bahkan, oleh Ulil Abshar Abdalla dalam artikelnya, Humanisasi Kitab Kuning: Refleksi dan Kritik atas Tradisi Intelektual Pesantren, menyatakan bahwa pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan islam di Indonesia yang mewarisi tradisi intelektual islam Tradisional. Selain itu, menurut Mochtar Buchori, pesantren merupakan bagian dari struktur internal pendidkan islam di Indonesia yang diselenggarakan secara tradisional yang telah menjadikan Islam sebagai cara hidup.[3]
Pesantren, sejak kemunculannya, memang tidak dapat dilepaskan dari peran masayarakat. Lembaga keagamaan ini tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat. Pesantren didirikan dengan tujuan mengadaka transformasi sosial bagi (masyrakat) daerah sekitarnya. Ia hadir mengabdikan dirinya mengembangkan dakwah islam dalam pengertian luas, mengembangkan masyarakat sesuai nilai-nilai keagamaan, dan pada gilirannya didukung secara penuh oleh mereka.[4]
Aspek lain pelibatan pesantren dalam pemberdayaan masyarakat berpulang pada kenyataan bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritas terdiri dari komunitas muslim pada umumnya menetap di daerah pedesaan. Pada sisi itu, pesantren yang memang berkembang dan tersebar di daerah-daerah pedesaan, sampai derajat tertentu, merupakan perwakilan dari masyarakat muslim daerah-daerah pedesaan. Mereka pada umumnya merupakan alumni atau hasil didikan dunia pesantren. Kenyataan itu membuat pesantren sampai saat ini masih berpengaruh (kuat) pada hampir seluruh aspek kehidupan di kalangan masyaraakat muslim pedesaan yang taat. Oleh karena itu, perlu ditekankan di sini bahwa setiap pengembangan pemikiran dan interpretasi keagamaan yang berasal dari luar kaum elit pesantren sebagai pusat pendidkan Islam dan intruksi keagamaan tidak akan memiliki dampak signifikan terhadap way of life dan sikap masyarakat islam di daerah pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat Indonesia, khususnya dalam bentuk pengembangan peradaban masyarakat (civil society), mutlak harus melibatkan pesantren.[5]

B.   PERAN PESANTREN BAGI MASYARAKAT DESA
Secara substansial, pesantren merupakn institusi keagamaan yang tidak mungkin bisa dilepaskan dari masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Lembaga ini tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat dengan memosisikan dirinya sebagai bagian masyarakat dalam pengertiannya yang transformatif.[6] Sebagai lembaga pendidikan tradisional yang mayoritas berada di pedesaan, pesantren memiliki andil yang cukup besar dalam melakukan transformasi sosial terhadap lingkungan masyarakat sekitarnya. Para santri senior dan akan segera kembali ke kampung halamannya, biasanya terlebih dahulu ditugasi untuk melaksanakan tugas pengabdian di daerah atau perkampungan yang menjadi binaan pesantren yang bersangkutan. hingga pada gilirannya santri telah siap untuk berkiprah di tengah masyarakat melakukan transformasi sosial.[7] 
Pondok pesantren didirikan bermula dari kegiatan usaha seorang kiai yang didukung keluarganya secaraa mandiri, sehingga hal-hal yang bersifat formal yang tertuang dalam statistik tidak begitu penting  namun kiai sering menjelaskan secara panjang lebar, bahwa pondok pesantren yang dipimpinnya adalah untuk mendidik dan membimbing seseorang agar mempunyai pengetahuan keagamaan dan berbudi pekerti yang baik, terhadap Allah, kepada orang tuanya, dan kepada guru yang mendidik.[8]
Memasuki era Orde Baru, yang dikenal sebagai era marginalisasi pendidikan agama, tugas pokok pesantren dalam mendidik dan memberdayakan masyarakat tetap dijalankan. Independensi yang selama ini dipertahankan agaknya menjadi faktor penting bagi tetap eksisnya pesantren sebagai media komunikasi efektif dalam jaringan masyarakat tradisional pedesaan. Dawam Rahardjo mengungkapkan, pesantren memiliki peran penting sebagai agen pembaharuan sosial, khususnya dalam program transmigrasi,sosialisasi sistem keluarga berencana, gerakan sadar lingkungan atau pergerakan para santri dan masyarakat setempat dalam perbaikan pra sarana fisik dan pembangunan masyarakat desa.[9] Sosiolog Jerman yang pernah meneliti perkembangan pesantren di Indonesia, Manfred Ziemek mengungkapkan bahwa pesantren telah berhasil melaksanakan proyek sinergis antara kerja dan pendidikan serta berhasil dalam membina lingkungan desa berdasarkan struktur budaya dan sosial.[10]
Efektifitas pesantren untuk menjadi agent of change sebenarnya terbentuk karna sejak awal keberadaan pesantren juga menempatkan diri sebagai pusat belajar masyarakat (Commonity learing centre) seperti di contohkan Gus Dur pada Pesantren Denanyar Jombang yang selama 50 tahun tidak pernah surut memberikan pengajian dan problem solving gratis pada Ibu-ibu rumah tangga di desa-desa lingkungan pesantren dan sekitarnya.
Hasil dari kegiatan ini memang bukan orang orang yg berijazah tetapi pembentukan pandangan nilai-nilai dan sikap hidup bersama dimasyarakat padahal pembangunan oleh pemerintah acapkali tidak menjangkau sisi ini. Disini terlihat jelas bahwa Pesantren bukan saja penyelenggara pendidikan tetapi juga penyelenggara dakwah yg mengajak pada perubahan pola hidup dimasyarakat.[11]


C.   PENGARUH PESANTREN BAGI MASYARAKAT DESA
Pesantren sangat berpengaruh bagi masyarakat pedesaan, karena dengan adanya pesantren, seseorang atau penduduk desa yang mencari ilmu didalamnya akan mengalami suatu proses pengkondisian agar anak didik menjadi lebih mengetahui, memahami, mengimani dan mengamalkan agamanya sebagai ajaraan yang menjadi pandangan dan pedoman hidup. Pengkondisian dalam kaitan tersebut, bararti upaya menumbuhkan kesadaran dari dalam pada diri anak didik. Ini merupakan suatu kesadaran yang memungkinkan anak didik mempunyai persepsi yang benar dan mendalam tentang agama sebagai sumber nilai dalam hidupnya dan juga sekaligus yang dapat menumbuhkan kekuatan kemauan dalam dirinya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupannya sehari-hari.[12]  
Pesantren memiliki pengaruh cukup besar di kalangan masyrakat, khususnya di pedesaan. Pesantren sampai saat ini memiliki pengaruh cukup kuat pada hampir seluruh aspek kehidupan di kalangan masyarakat muslim pedesaan yang taat. Kuatnya pengaruh pesantren tersebut membuat setiap pengembangan pemikiran dan interpretasi keagamaan yang berasal dari luar kaum elit pesantren tidak akan memiliki dampak signifikan terhadap way of life dan sikap masyarakat islam di daerah pedesaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa setiap upaya yang ditujukan untuk pengembangan masyarakat, terutama di daerah-daerah pedesaan, perlu melibatkan dunia pesantren.[13]


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
            Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa,
Keberadaan pesantren sebagai lembaga keislaman yang sangat kental dengan karakteristik Indonesia ini memiliki nilai-nilai strategis dalam pengembangan masyarakat Indonesia.yang mana sebagian besar penduduk Indonesia terdiri dari umat islam, dan pada sisi lain, mayoritas dari mereka tinggal di pedesaan. Pesantren dianggap sebagai satu-satunya sistem pendidikan di Indonesia yang menganut sistem tradisional.
. Sebagai lembaga pendidikan tradisional yang mayoritas berada di pedesaan, pesantren memiliki andil yang cukup besar dalam melakukan perubahan sosial terhadap lingkungan masyarakat sekitarnya, selain itu pesantren juga sebagai media komunikasi efektif dalam jaringan masyarakat tradisional pedesaan.
Pesantren sampai saat ini memiliki pengaruh cukup kuat pada hampir seluruh aspek kehidupan di kalangan masyarakat muslim pedesaan yang taat. Kuatnya pengaruh pesantren tersebut membuat setiap pengembangan pemikiran dan penafsiran keagamaan yang berasal dari luar kaum elit pesantren tidak akan memiliki dampak yang penting terhadap arah atau jalan  hidup dan sikap masyarakat islam di daerah pedesaan.






DAFTAR PUSTAKA

→ A’la, Abd. 2006. Pembaruan Pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
→ Haedari, Amin dkk. 2004. Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan
     Tantangan Komplesitas Global. Jakarta: IRD PRESS.
→ Sukamto. 1999. Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren. Jakarta: Pustaka LP3ES.
→ Usa, Muslih. 1991. Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta. Yogyakarta: PT.
     Tiara Wacana Yogya.



[1] Abd A’la, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta:Pustaka Pesantren, 2006), hlm. 1
[2] HM. Amin Haedari, Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, (Jakarta:IRD PRESS, 2004), hlm. 2
[3] Ibid. hlm. 14
[4] A’la, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta:Pustaka Pesantren, 2006), hlm. 47
[5] Ibid. hlm. 48
[6] Ibid, hlm. 2
[7] Haedari, Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, (Jakarta:IRD PRESS, 2004), hlm. 181
[8] Sukamto, Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 1999), hlm. 140-141
[9] Haedari, Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, (Jakarta:IRD PRESS, 2004), hlm. 11-12
[10] Ibid, hlm. 12
[12] Muslih Usa, Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1991), hlm. 99
[13] A’la, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006), hlm. 1-2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar