AHLAN WA SAHLAN

" Derasnya air surga yang turun di setiap hari dengan memberikan banyak manfaat bagi makhluk-Nya sama dengan cinta_Mu Robby padaku yang selalu memberikan berbagai macam cerita di hidupku "

Senin, 06 Mei 2013

Karakteritik & sifat anak Bungsu

BAB I
PENDAHULUAN
    A.    LATARE BELAKANG
Dalam sebuah keluarga, anak menduduki posisi tertentu berdasarkan urutan kelahirannya yang mana mempunyai pengaruh mendasar dalam perkembangan anak selanjutnya.
Penelitian yang dikemukakan oleh Ben Dattner seorang psikolog dari New York, urutan kelahiran memberikan peran yang berbeda bagi tiap anak dalam sebuah keluarga. Perbedaan peran ini akan memberikan perbedaan kepribadian tiap-tiap anak dan juga cara mereka beradaptasi dengan lingkungan. "Posisi anak dalam keluarga memberikan pengaruh pada kepribadian mereka, perilaku, cara belajar, dan bagaimana mereka memperoleh kekuasaan.
Anak bungsu menunjukan adanya perbedaan pengambilan keputusan yang signifikan antara anak sulung dan anak tengah dapat dilihat berdasarkan karakteristik bahwa anak sulung adalah anak yang lahir pertama kali atau berada pada posisi pertama dalam urutan kelahiran. Umumnya anak sulung merupakan masalah bagi orang tua yang belum berpengalaman berperan sebagai orang tua, sehingga kelahiran anak sulung mempunyai perhatian dan perlindungan yang berlebihan dari orang tua. Menurut Seipt (dalam Handayani) menyebutkan bahwa setiap anak punya tempat yang unik dalam keluarga. Memang benar karena setiap anak menduduki posisi yang khusus. Sehingga dikenal dengan adanya anak sulung, anak bungsu, anak tengah, ataupun anak tunggal dengan karakternya masing-masing. Dalam makalah ini kami akan mengulas tentang sifat dan karakteristik anak bungsu.

     B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimanakan sifat dari anak bungsu ?
2.      Bagaimanakan psikologi tentang anak bungsu ?
3.      Karakteristik apa saja yang melekat pada anak bungsu ?
4.      Bagaimana strategi pembelajaran untuk anak bungsu ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.    SIFAT ANAK BUNGSU
Bungsu atau anak bungsu adalah anak termuda atau anak terakhir dari sepasang orang tua. Anak sulung dapat menjadi anak termuda tapi bukan anak terakhir jika ibunya melahirkan anak-anak sesudahnya tetapi tidak ada yang masih hidup. Seorang anak bungsu juga dapat dikatakan anak terakhir, namun bukan anak termuda jika ia memiliki saudara tiri yang lebih muda darinya.[1]
Dalam masyarakat  umum banyak yang berpendapat bahwa bungsu ini adalah anak yang manja maka dari itu menjadi pusat perhatian keluarga, baik dari orang tua, maupun kakak-kakaknya, lebih lagi jika kakaknya terpaut usia yang cukup jauh sehingga menyebabkan posisi anak bungsu  ini benar-benar menjadi hal yang menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga di rumah. Dengan mendapat perhatian yang terus menerus dari kakak-kakaknya yang lebih dewasa dan dari orang tuanya, mengakibatkan sifat-sifat anak bungsu ini sering terlihat seperti kekanak-kanakan cepat putus asa dan bila  menginginkan sesuatu kemudian tidak tercapai, maka akan memberikan reaksi yang sifatnya emosinal misalnya cepat menangis, bertingkah laku secara berlebihan dan lain-lain.[2]
Salah satu sifat anak bungsu adalah suka memikirkan orang lain. Jiwa sosialnya yang amat tinggi menyebabkan ia menjadi orang yang bertipe Altruis dan seringkali terjebak dalam Altruisme. Altruisme adalah faham yang berlebihan.
Dalam hubunganya dengan anak sulung, bungsu harus hati-hati didalam berkomunikasi dan tidak boleh terlalu percaya kepada orang lain, juga harus menentukan apakah lebih memikirkkan barang atau orangnya. Anak bungsu sangat cocok untuk bekerja di dunia marketing, dunia hiburan dan dunia pendidikan sebeagai guru. Anak bungsu memiliki jiwa social tinggi tak heran jika anak bungsu memiliki sifat yang dermawan.
Anak bungsu dibesarkan dengan keistimewaan, Ia adalah raja di rumah. Kakaknyapun mengekspresikan kasih sayang nya ke dia. Jadi ia tinggal menyuruh jika membutuhkan sesuatu. Bagi orang tua anak bungsu adalah tumpuan harapan terakhir, namun harapan terhadapnya berbeda dengan tumpuan terhadap si sulung. Obsesi orang tua sudah lebih realistis.
Semua keperluannya di Bantu dan disediakan, ia Cuma tahu beres. Berdasarkan pengalaman itu maka kecenderungan sifat si bungsu yaitu mudah si bungsu untuk bisa berbagi dan tumbuh sebagai anak yang keras, menyenangkan, juga kasih sayang yang berlimpah kepadanya menumbuhkan rasa sayang pada sesama yang besar. Dilihat dari sisi negatifnya ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang lemah karena terlalu di manja dan diperhatikan. Akibatnya, motivasi dan se
mangatnya untuk melakukan sesuatu juga kurang. Selain itu karena selalu di anggap sebagai anak kecil, ia terlihat kurang matang, kurang percaya diri, egois, cenderung selalu menunggu dan menuntut, serta kurang bertanggung jawab. Dari hal tersebut jelaslah mana yang bisa diperbaiki demi kesukssesanya di masa depan.[3]
B.     PSIKOLOGI ANAK BUNGSU
Beberapa psikolog mengenai anak bungsu:
Ø  Yang pertama, biasanya mereka memiliki karakter yang menyenangkan seperti pandai bergaul, popular tetapi mudah membuat orang jatuh hati kepada nya. Mereka sangat mudah merasa puas dengan apa yang ia dapatkan. Jika saat terlibat dalam hubungan asmara mereka sangat terfokus dengan hubungan tersebut. Perhatian yang kecil saja sudah cukup membuat hati anak bungsu bertekuk lutut.[4] Tetapi di balik sifatnya yang menyenangkan, jangan sekali-kali mencoba untuk mendominasi anak bungsu. Karena mempunyai kecenderungan kuat untuk menentang atau paling sering menanyakan otoritas. Mereka tidak suka dianggap sebagai pengikut atau di anggap kecil.
Ø  Selanjutnya sifat positif yang dimiliki anak bungsu adalah mudah bergaul,dapat menjadi pendengar yang baik dan orangnya kreatif. Tetapi dibalik itu ada beberapa kekurangan dari anak bungsu adalah memiliki  emosi yang labil maka menjadikan anak bungsu tidak cocok untuk dijadikan pemimpin, manja, dan gila akan perhatian orang lain. Berbadan lebih sehat.[5] Anak bungsu juga paling jarang mengalami sakit karena tipe anak bungsu memiliki fisik yang lebih sehat.
Dalam beberapa kasus psikologi dan kejiwaan, bungsu sering dikaitkan dan dikambing hitamkan. Bungsu memiliki sisi gelap yang memerangkapnya dalam beberapa saat sebelum mengalami pencerahan dan kembali lagi mengalami problem psikologis. Selain sebagai seniman yang baik, bungsu sering dicap sebagai orang yang dikutuk karena kecerobohan dan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya tidak perlu memberatkan dirinya.[6]
.
C.    KARAKTERRISTIK ANAK BUNGSU
Karakteristik anak bungsu dapat dilihat berdasarkan urutan kelahirannya. Pada dasarnya anak bungsu adalah seorang anak yang memiliki banyak pilihan. Dia memiliki saudara tua/ kakak yang bisa dijadikan panutan. Semua baik buruk yang dimiliki oleh kakak sedikit banyak akan mempengaruhi pilihan si bungsu. Contoh, kakak dari si bungsu adalah seorang anak yang sukses menjadi pemain sepak bola, kemungkinan besar hobi bermain sepak bola juga akan tertular kepada si bungsu. Sebalik nya jika figur kakak gagal dalam karirnya juga akan mempengaruhi motivasi adik untuk kedepan.  Maka dari itu, anda yang termasuk anak sulung atau anak tengah secara tidak langsung sangat bertanggung jawab kepada masa depan si bungsu. Tapi semuanya bukanlah alasan si bungsu untuk menyalahkan orang lain. Karena semua keputusan hidup tetap di tangan bungsu, meskipun pengaruh lingkungan dan keluarga sangat menentukan.
Si bungsu seringkali merasa rendah diri jika melihat kesuksesan kakaknya. Meskipun rasa itu tidak ditunjukan secara langsung, namun rasa itu tetap ada jika seorang bungsu melihat kakaknya yang sukses sedangkan dia belum bisa mensejajarkan kesuksesanya dengan kakaknya. Oleh karena itu jika kita sudah merasa sukses dan memiliki adik, dukunglah adik anda agar mereka tidak kecil hati dan semangat dalam berusaha mencapai kesuksesanya. Jangan sampai sifat iri si bungsu terlalu jauh sehinggga mengakibatkan timbulnya rasa dengki. Hal ini tentu bukanlah yang kita harapkan.
Proses pendewasaan anak bungsu cenderung lebih lama daripada kakak-kakaknya. Hal ini dikarenakan sebelum mendapatkan tanggung jawab, kakak-kakaknya sudah dapat menghandle. Itulah yang membuat si bungsu bersikap santai dan cenderung kurang bertanggung jawab. Untuk mengantisipasi hal itu, mungkin orang tua atau kakaknya bisa mengajarkan si bungsu untuk bertanggung jawab mulai dari tingkatan yang relative rendah terlebih dahulu. Kelebihan dari karakteristik anak bungsu adalah lebih spontan dan memiliki jiwa yang lebih bebas memunculkan kepribadian mereka. Karena kebebasan itulah yang banyak kita jumpai dalam kategori anak bungsu. Anak bungsu mempunyai  kemampuan untuk melakukan banyak hal (multi talent). Banyaknya panutan, kebebasan dan perlakuan istimewa secara tidak sadar membentuk seorang anak bungsu memiliki berbagai minat dan bakat yng diturunkan oleh orangtunya atau kakaknya.
Anak bungsu sering dianggap sebagai anak kecil meskipun sebenarnya anak bungsu sudah dewasa. Sulit bagi anak terakhir untuk mendapatkan otoritas dalam keluarganya, karena sebelumnya anak pertama atau anak tengah telah menunjukan inilah mereka dalam keluarga. Secara umum berikut adalah karakter anak bungsu:
Ï Dianggap anak kecil terus menerus meskipun ia telah dewasa
Ï Sering merasa rendah diri, karena tidak sehebat kakaknya
Ï Mempunyai kebebasan untuk mengembangkan kepribadian
Ï Cenderung kurang bertanggung jawab
Ï Umumnya hanya diberi sedikit tugas atau tanggung jawab
Ï Proses pendewasaanya lambat
Ï Kurang mandiri dalam mengerjakan aktifitas nya
Ï Mempunyai jiwa spontan yang bebas dan lebih spontan
Ï Dimanjakan oleh keluarga
Berikut adalah karakteristik anak bungsu jika dilihat dari sifat dan kepribadian
KATEGORI
KELEBIHAN
KEKURANGAN
Sifat
Penyayang, ramah, kreatif, jiwa sosialnya tinggi.
Manja, kurang dewasa, egois ,labil atau tak terduga
Karir
Berjalan baik dibidang marketing karena bungsu mampu menjual sesuatu, dan berbakat di dunia sales
Tidak suka beerkomitmen , merupakan pesaing yang pantas diperhitungkan.

D.    STRATEGI PEMBELAJARAN
Anak terakhir lihai dalam menjalankan peran nya, sering bertindak manipulatif  dan menyadari bahwa dia dapat bahwa dia mendapatkan perhatian yang lebih daripada saudaranya yang lain. Anak bungsu dapat mendapatkan apapun hanya dengan seedikit merengek-rengek, jangan biarkan hal itu berlangsung lama. Gunakan lah cara “jika kamu ingin sesuatu maka berbuatlah sesuatu”. Jangan langsung memberikan apa yang di inginkan si bungsu, ajarilah mereka untuk berusaha mendapatkan sesuatu tersebut. Contohnya Amel adalah anak bungsu dalam keluarganya, suatu saat Amel menginginkan sepeda mini baru, ketika mengutarakan keinginannya kepada orang tuanya, Amel tidak serta merta mendapatkan sepeda mini baru begitu saja. Tetapi orang tua Amel meminta Amel untuk menjadi juara dikelas nya terlebih dahulu baru Amel akan mendapatkan sepeda baru. Jika Amel berhasil maka Amel akan segera mendapatkan sepeda mini baru, tetapi jika Amel gagal maka Amel tidak mendapatkan sepeda mini baru. Hal itu harus secara konsisten dijalankan agar anak bungsu terbiasa untuk berusaha memperoleh apa yang dia inginkan dan tidak sekedar meminta kepada orangtua saja.
 Selain itu jangan biarkan si bungsu pergi terlalu sering bermain.  Hal ini dimaksudkan agar si bungsu tau ada pembagian waktu kapan waktunya bermain dan kapan waktunya serius.
Tips untuk orang tua dalam menghadapi si bungsu :
ü  Biasakan si bungsu melakukan tugasnya sendiri
ü  Ajari si bungsu untuk bertanggung jawab dengan apa yang si bungsu kerrjakan
ü  Ajari si bungsu untuk berusaha memperoleh apa yang ia inginkan jadi tidak serta merta meminta kepada orang tua saja.
E.  MITOS DAN FAKTA SEPUTAR ANAK BUNGSU
1.      Anak bungsu Manja
2.      Anak bungsu selalu diperhatikan
3.      Anak bungsu selalu diutamakan
4.      Anak bungsu selalu diberi semua hal yang diinginkan
5.      Anak bungsu selalu terjamin karena dia menuruni aset yang dimiliki kedua orang tuanya.
6.      Anak bungsu tidak pernah mau berpikir dewasa.
7.      Anak bungsu selalu cengeng.
8.      Anak bungsu tidak pernah merasakan perjuangan.
9.      Anak Bungsu selalu berambisi meraih sesuatu.
10.  Anak bungsu tidak pernah lelah.[7]
11.  Tergolong anak yang sulit karena mempunyai kakak yang dijadikan model.
12.  Kerap merasa inferior (rendah diri), tidak sehebat kakak-kakaknya.
13.  Dalam pengasuhan kerap dibantu orang sekitar, sehingga tidak terlalu sadar dengan potensi dirinya.
14.  Cenderung dimanjakan dan kasih sayang banyak tercurah padanya. Lebih merasa aman.
15.  Cenderung tidak dewasa dan kurang bertanggung jawab.
16.  Biasanya paham bahwa mereka termasuk spesial.
17.  Dianggap sebagal “anak kecil” terus menerus.
18.  Aturan yang diberlakukan padanya lebih longgar.
19.  Hanya diberi sedikit tanggung jawab dalam keluarga.
20.  Umumnya tidak diberi banyak tugas, dan tak perlu mengasuh adik.
21.  Sedikitnya pengalaman dalam belajar bertanggung jawab membuat si bungsu menghindari tanggung jawab dan komitmen, terutama bila orangtua senang memperlakukannya sebagai “bayi”.
22.   Lebih spontan dan mempunyai jiwa yang lebih bebas.
23.  Banyak komedian dan pembawa acara merupakan anak tengah atau anak bungsu karena bebas mengembangkan kepribadian mereka yang unik.[8]


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tidak bisa dipungkiri, anak bungsu cenderung memiliki sifat kekanak-kanakan. Apabila Ia tidak mendapatkan apa yang Ia inginkan atau apa yang Ia dapatkan tidak sesuai dengan apa yang Ia harapkan, maka ia cenderung akan bereaksi secara emosional, misalnya mengurung diri di dalam kamar, mogok makan, menangis secara berlebihan, bahkan tidak mau berinteraksi dengan orang lain alias tutup mulut. Anak bungsu memiliki sifat Fun (menyenangkan) dan manja (kolokan) dikarenakan sudah mempunyai kakak-kakak diatasnya jadi merasa menggantungkan dengan kakaknya atau orang tuanya (pada umumnya tapi tidak mesti). Anak Bungsu kurang cocok untuk jadi seorang pemimpin karena kurang tegas (pada umumnya).anak Bungsu biasanya paling awet muda diantara anak-anak yang lain (baby face). Sifat buruk dari anak Bungsu adalah ceroboh,
tidak terlalu berhati-hati,dan paling malas diantara anak lainnya (anak sulung/tengah) dan mudah putus asa, tetapi walau ada masalah seberat apapun, ia tetap bersifat ceria. anak Bungsu pada umumnya selalu berusaha untuk menjadi pusat perhatian dan selalu ingin menjadi yang paling berbeda dari kakak-kakaknya.
Dalam beberapa kasus psikologi dan kejiwaan, bungsu sering dikaitkan dan dikambing hitamkan. Bungsu memiliki sisi gelap yang memerangkapnya dalam beberapa saat sebelum mengalami pencerahan dan kembali lagi mengalami problem psikologis. Selain sebagai seniman yang baik, bungsu sering dicap sebagai orang yang dikutuk karena kecerobohan dan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya tidak perlu memberatkan dirinya.





Pendidikan

PERAN PESANTREN
BAGI MASYARAKAT PEDESAAN
Diajukankan sebagai tugas akhir mata kuliah
“TPKI”




Disusun oleh:
Desy noorhayati umar
D03210054

Dosen Pembimbing :
 Dr. Phil. Khoirun Niam

FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2010

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................................  i

BAB 1             PENDAHULUAN ...............................................................................................   1  
A.    Latar Belakang ................................................................................................  1
B.     Rumusan Masalah ...........................................................................................  1

BAB 2             PEMBAHASAN ..................................................................................................  2
A.    Pesantren dan Masyrakat Desa ........................................................................  2
B.     Peran Pesantren bagi Masyarakat Desa ...........................................................  3
C.     Pengaruh Pesantren bagi Masyarakat Desa .....................................................  4

BAB 3             PENUTUP ...........................................................................................................  5
                        Kesimpulan ..........................................................................................................  5

DAFTAR PUSTAKA







BAB 1
PENDAHULUAN

    A.   LATAR BELAKANG
            Jika muncul pertanyaan, apa itu pesantren? Maka jawaban yang kita dapatkan pasti bermacam-macam. Karna banyak pendapat tentang pengertian pesantren itu sendiri. Lebih-lebih dari para tokoh yang memiliki argumen sendiri-sendiri.
Pesantren dapat disimpulkan sebagai suatu lembaga pendidikan islam tradisional yang dikelolah oleh masyarakat dan atas swadayanya sendiri. Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan merupakan realitas yang tak dapat dipungkiri. Sepanjang sejarah yang dilaluinya, pesantren terus menekuni pendidikan tersebut dan menjadikannya sebagai fokus kegiatan.
Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, pesantren pada mulanya adalah pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama islam. Dengan menyediakan kurikulum yang berbasis agama, pesantren diharaapkan mampu melahirkan alumni yang kelak mampu menjadi figur agamawan yang tangguh dan memainkan perannya pada masyarakat secara umum.
 Pesantren sangat identik dengan masyarakat pedesaan, karna mayoritas keberadaan pesantren ada di pedesaan, karna dari itu, banyak para orang tua yang berada di desa yang bertujuan ingin menentukan pendidikan bagi anak-anaknya, mereka langsung berinisiatif untuk memasukkan anak mereka pada sebuah pesantren. Karna menurut mereka, di pesantren anak-anak akan mendapat ilmu agama yang cukup banyak yang dapat menjadi bekal untuk kehidupan mereka kelak. Selain mengajarkan ilmu agama, pesantren juga memiliki banyak peran-peran yang lain, terutama bagi masyarakat pedesaan.



  B.   RUMUSAN MASALAH
   1.      Apa hubungan pesantren dengan masyarakat pedesaan ?
   2.      Bagaimana peran pesantren bagi masyarakat pedesaan ?
   3.      Mengapa pesantren sangat berpengaruh bagi masyarakat pedesaan ?
         
BAB II
PEMBAHASAN

A.   PESANTREN DAN MASYARAKAT DESA
Sejak awal kelahirannya, pesantren tumbuh, berkembang dan tersebar di berbagai pedesaan. Keberadaan pesantren sebagai lembaga keislaman yang sangat kental dengan karakteristik Indonesia ini memiliki nilai-nilai strategis dalam pengembangan masyarakat Indonesia. Realitas menunjukkan, pada satu sisi, sebagian besar penduduk Indonesia terdiri dari umat islam, dan pada sisi lain, mayoritas dari mereka tinggal di pedesaan.[1]
Pesantren merupakan sekumpulan komunitas independen yang pada awalnya mengisolasi diri di sebuah tempat yang jauh dari pusat perkotaan.[2] Pesantren dianggap sebagai satu-satunya sistem pendidikan di Indonesia yang menganut sistem tradisional. Karna nilai-nilai kemandirian yang dianut pesantren masih lebih menampakkan aspeknya yang bersifat individual, atau sangat lokal, dan belum menjadi sikap social kemasyarakatan yang transformative. Persoalan itu masih ditambah dengan pemaknaan sebagai pesantren terhadap pengabdian dan pengembangan masyrakat yang masih terkesan parsial dan melulu ditekankan pada aspek pengembangan keilmuan keagamaan murni.
 Bahkan, oleh Ulil Abshar Abdalla dalam artikelnya, Humanisasi Kitab Kuning: Refleksi dan Kritik atas Tradisi Intelektual Pesantren, menyatakan bahwa pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan islam di Indonesia yang mewarisi tradisi intelektual islam Tradisional. Selain itu, menurut Mochtar Buchori, pesantren merupakan bagian dari struktur internal pendidkan islam di Indonesia yang diselenggarakan secara tradisional yang telah menjadikan Islam sebagai cara hidup.[3]
Pesantren, sejak kemunculannya, memang tidak dapat dilepaskan dari peran masayarakat. Lembaga keagamaan ini tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat. Pesantren didirikan dengan tujuan mengadaka transformasi sosial bagi (masyrakat) daerah sekitarnya. Ia hadir mengabdikan dirinya mengembangkan dakwah islam dalam pengertian luas, mengembangkan masyarakat sesuai nilai-nilai keagamaan, dan pada gilirannya didukung secara penuh oleh mereka.[4]
Aspek lain pelibatan pesantren dalam pemberdayaan masyarakat berpulang pada kenyataan bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritas terdiri dari komunitas muslim pada umumnya menetap di daerah pedesaan. Pada sisi itu, pesantren yang memang berkembang dan tersebar di daerah-daerah pedesaan, sampai derajat tertentu, merupakan perwakilan dari masyarakat muslim daerah-daerah pedesaan. Mereka pada umumnya merupakan alumni atau hasil didikan dunia pesantren. Kenyataan itu membuat pesantren sampai saat ini masih berpengaruh (kuat) pada hampir seluruh aspek kehidupan di kalangan masyaraakat muslim pedesaan yang taat. Oleh karena itu, perlu ditekankan di sini bahwa setiap pengembangan pemikiran dan interpretasi keagamaan yang berasal dari luar kaum elit pesantren sebagai pusat pendidkan Islam dan intruksi keagamaan tidak akan memiliki dampak signifikan terhadap way of life dan sikap masyarakat islam di daerah pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat Indonesia, khususnya dalam bentuk pengembangan peradaban masyarakat (civil society), mutlak harus melibatkan pesantren.[5]

B.   PERAN PESANTREN BAGI MASYARAKAT DESA
Secara substansial, pesantren merupakn institusi keagamaan yang tidak mungkin bisa dilepaskan dari masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Lembaga ini tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat dengan memosisikan dirinya sebagai bagian masyarakat dalam pengertiannya yang transformatif.[6] Sebagai lembaga pendidikan tradisional yang mayoritas berada di pedesaan, pesantren memiliki andil yang cukup besar dalam melakukan transformasi sosial terhadap lingkungan masyarakat sekitarnya. Para santri senior dan akan segera kembali ke kampung halamannya, biasanya terlebih dahulu ditugasi untuk melaksanakan tugas pengabdian di daerah atau perkampungan yang menjadi binaan pesantren yang bersangkutan. hingga pada gilirannya santri telah siap untuk berkiprah di tengah masyarakat melakukan transformasi sosial.[7] 
Pondok pesantren didirikan bermula dari kegiatan usaha seorang kiai yang didukung keluarganya secaraa mandiri, sehingga hal-hal yang bersifat formal yang tertuang dalam statistik tidak begitu penting  namun kiai sering menjelaskan secara panjang lebar, bahwa pondok pesantren yang dipimpinnya adalah untuk mendidik dan membimbing seseorang agar mempunyai pengetahuan keagamaan dan berbudi pekerti yang baik, terhadap Allah, kepada orang tuanya, dan kepada guru yang mendidik.[8]
Memasuki era Orde Baru, yang dikenal sebagai era marginalisasi pendidikan agama, tugas pokok pesantren dalam mendidik dan memberdayakan masyarakat tetap dijalankan. Independensi yang selama ini dipertahankan agaknya menjadi faktor penting bagi tetap eksisnya pesantren sebagai media komunikasi efektif dalam jaringan masyarakat tradisional pedesaan. Dawam Rahardjo mengungkapkan, pesantren memiliki peran penting sebagai agen pembaharuan sosial, khususnya dalam program transmigrasi,sosialisasi sistem keluarga berencana, gerakan sadar lingkungan atau pergerakan para santri dan masyarakat setempat dalam perbaikan pra sarana fisik dan pembangunan masyarakat desa.[9] Sosiolog Jerman yang pernah meneliti perkembangan pesantren di Indonesia, Manfred Ziemek mengungkapkan bahwa pesantren telah berhasil melaksanakan proyek sinergis antara kerja dan pendidikan serta berhasil dalam membina lingkungan desa berdasarkan struktur budaya dan sosial.[10]
Efektifitas pesantren untuk menjadi agent of change sebenarnya terbentuk karna sejak awal keberadaan pesantren juga menempatkan diri sebagai pusat belajar masyarakat (Commonity learing centre) seperti di contohkan Gus Dur pada Pesantren Denanyar Jombang yang selama 50 tahun tidak pernah surut memberikan pengajian dan problem solving gratis pada Ibu-ibu rumah tangga di desa-desa lingkungan pesantren dan sekitarnya.
Hasil dari kegiatan ini memang bukan orang orang yg berijazah tetapi pembentukan pandangan nilai-nilai dan sikap hidup bersama dimasyarakat padahal pembangunan oleh pemerintah acapkali tidak menjangkau sisi ini. Disini terlihat jelas bahwa Pesantren bukan saja penyelenggara pendidikan tetapi juga penyelenggara dakwah yg mengajak pada perubahan pola hidup dimasyarakat.[11]


C.   PENGARUH PESANTREN BAGI MASYARAKAT DESA
Pesantren sangat berpengaruh bagi masyarakat pedesaan, karena dengan adanya pesantren, seseorang atau penduduk desa yang mencari ilmu didalamnya akan mengalami suatu proses pengkondisian agar anak didik menjadi lebih mengetahui, memahami, mengimani dan mengamalkan agamanya sebagai ajaraan yang menjadi pandangan dan pedoman hidup. Pengkondisian dalam kaitan tersebut, bararti upaya menumbuhkan kesadaran dari dalam pada diri anak didik. Ini merupakan suatu kesadaran yang memungkinkan anak didik mempunyai persepsi yang benar dan mendalam tentang agama sebagai sumber nilai dalam hidupnya dan juga sekaligus yang dapat menumbuhkan kekuatan kemauan dalam dirinya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupannya sehari-hari.[12]  
Pesantren memiliki pengaruh cukup besar di kalangan masyrakat, khususnya di pedesaan. Pesantren sampai saat ini memiliki pengaruh cukup kuat pada hampir seluruh aspek kehidupan di kalangan masyarakat muslim pedesaan yang taat. Kuatnya pengaruh pesantren tersebut membuat setiap pengembangan pemikiran dan interpretasi keagamaan yang berasal dari luar kaum elit pesantren tidak akan memiliki dampak signifikan terhadap way of life dan sikap masyarakat islam di daerah pedesaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa setiap upaya yang ditujukan untuk pengembangan masyarakat, terutama di daerah-daerah pedesaan, perlu melibatkan dunia pesantren.[13]


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
            Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa,
Keberadaan pesantren sebagai lembaga keislaman yang sangat kental dengan karakteristik Indonesia ini memiliki nilai-nilai strategis dalam pengembangan masyarakat Indonesia.yang mana sebagian besar penduduk Indonesia terdiri dari umat islam, dan pada sisi lain, mayoritas dari mereka tinggal di pedesaan. Pesantren dianggap sebagai satu-satunya sistem pendidikan di Indonesia yang menganut sistem tradisional.
. Sebagai lembaga pendidikan tradisional yang mayoritas berada di pedesaan, pesantren memiliki andil yang cukup besar dalam melakukan perubahan sosial terhadap lingkungan masyarakat sekitarnya, selain itu pesantren juga sebagai media komunikasi efektif dalam jaringan masyarakat tradisional pedesaan.
Pesantren sampai saat ini memiliki pengaruh cukup kuat pada hampir seluruh aspek kehidupan di kalangan masyarakat muslim pedesaan yang taat. Kuatnya pengaruh pesantren tersebut membuat setiap pengembangan pemikiran dan penafsiran keagamaan yang berasal dari luar kaum elit pesantren tidak akan memiliki dampak yang penting terhadap arah atau jalan  hidup dan sikap masyarakat islam di daerah pedesaan.






DAFTAR PUSTAKA

→ A’la, Abd. 2006. Pembaruan Pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
→ Haedari, Amin dkk. 2004. Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan
     Tantangan Komplesitas Global. Jakarta: IRD PRESS.
→ Sukamto. 1999. Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren. Jakarta: Pustaka LP3ES.
→ Usa, Muslih. 1991. Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta. Yogyakarta: PT.
     Tiara Wacana Yogya.



[1] Abd A’la, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta:Pustaka Pesantren, 2006), hlm. 1
[2] HM. Amin Haedari, Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, (Jakarta:IRD PRESS, 2004), hlm. 2
[3] Ibid. hlm. 14
[4] A’la, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta:Pustaka Pesantren, 2006), hlm. 47
[5] Ibid. hlm. 48
[6] Ibid, hlm. 2
[7] Haedari, Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, (Jakarta:IRD PRESS, 2004), hlm. 181
[8] Sukamto, Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 1999), hlm. 140-141
[9] Haedari, Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, (Jakarta:IRD PRESS, 2004), hlm. 11-12
[10] Ibid, hlm. 12
[12] Muslih Usa, Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1991), hlm. 99
[13] A’la, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006), hlm. 1-2